get app
inews
Aa Text
Read Next : Selain Ali Khamenei, Eks Presiden Iran Dilaporkan Tewas dalam Serangan AS-Israel

Persia, Perlawanan, dan Kematian Seorang Pemimpin Dunia Kembali Mengingat Iran

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:50 WIB
header img
Abu Hudzaifah Mahasiswa S3 Pasca sarjana Universitas Negeri Makassar. Foto: iNewsGowa.id.

TAKALAR, iNews.id - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026 dalam serangan militer yang dikaitkan dengan operasi Amerika Serikat dan Israel telah mengguncang geopolitik dunia. Pemerintah Iran sendiri kemudian mengonfirmasi kematiannya dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. 

Bagi sebagian orang, peristiwa ini hanyalah bagian dari konflik panjang Timur Tengah. Namun bagi banyak pihak lainnya, kematian Khamenei membuka kembali memori lama tentang sebuah bangsa yang pernah menjadi pusat peradaban besar dunia yaitu Persia.

Iran modern memang tidak bisa dilepaskan dari jejak sejarah Persia. Jauh sebelum dunia mengenal Amerika Serikat sebagai kekuatan global, wilayah ini telah melahirkan imperium besar seperti Kekaisaran Achaemenid. Dalam catatan sejarah militer, Persia dikenal memiliki pasukan elite yang disebut “The Immortals”, sekitar 10.000 prajurit yang selalu siap menggantikan satu sama lain jika ada yang gugur di medan perang.

Persia bukan sekadar kekuatan militer. Ia juga melahirkan tradisi intelektual, budaya, dan spiritual yang mempengaruhi dunia Islam. Salah satu tokoh yang paling dikenal dalam sejarah Islam dari bangsa Persia adalah Salman al-Farisi, sahabat Nabi Muhammad yang menjadi simbol persatuan lintas bangsa dalam peradaban Islam.

Iran modern lahir dari sebuah peristiwa besar yakni Revolusi Islam 1979. Revolusi tersebut dipimpin oleh ulama karismatik Ruhollah Khomeini, yang menggulingkan pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi.

Pemerintahan Shah Pahlavi sebelumnya dikenal dengan modernisasi ala Barat. Kota-kota besar seperti Teheran mengalami perubahan sosial cepat, seperti pendidikan meningkat, industrialisasi berkembang, dan gaya hidup Barat semakin dominan. Namun modernisasi itu juga diiringi ketimpangan ekonomi dan represi politik terhadap oposisi.

Di tengah kondisi tersebut, Khomeini muncul dengan narasi yang berbeda. Ia menawarkan konsep negara berbasis agama yang menolak dominasi Barat sekaligus mengusung kedaulatan nasional. Revolusi itu akhirnya berhasil menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Islam Iran.

Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, kepemimpinan Iran beralih kepada Ali Khamenei. Selama lebih dari tiga dekade, ia memimpin Iran dengan model pemerintahan teokrasi yang memadukan otoritas agama dan kekuasaan negara.

Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Namun bagi para pengkritiknya, ia juga menjadi simbol kerasnya sistem politik Iran terhadap oposisi internal.

Dalam beberapa rekaman pidato yang beredar sebelum wafatnya, Khamenei pernah menegaskan prinsip kepemimpinannya:

“Kehidupan atau kematian bukanlah yang terpenting. Yang terpenting adalah keberlangsungan Republik Islam dan kehormatan bangsa.”

Pernyataan semacam itu menggambarkan bagaimana politik Iran sering dibingkai dalam narasi kehormatan dan pengorbanan.

Jika ditarik lebih jauh, konsep semangat pengorbanan seperti ini bukan hal baru dalam sejarah Islam. Dalam catatan sejarah, kita mengenal kisah Tariq ibn Ziyad, panglima Muslim yang menyeberangi Selat Gibraltar pada tahun 711 M dengan sekitar 7.000 pasukan dan berhasil membuka jalan bagi peradaban Islam di Andalusia.

Sejarah selalu menunjukkan satu pola, bangsa yang memiliki keyakinan kuat terhadap identitas dan prinsipnya sering kali mampu bertahan dalam tekanan besar.

Namun sejarah juga memberi pelajaran lain yaitu kekuatan sejati suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan militernya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kemanusiaan.

Dalam dunia yang terus diliputi konflik, pesan yang dinukil dari Ali ibn Abi Talib mungkin tetap relevan. 

“Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Kalimat sederhana ini mengingatkan bahwa di tengah perbedaan ideologi, politik, dan agama, kemanusiaan tetap menjadi titik temu yang tidak boleh dilupakan.

Kematian seorang pemimpin mungkin mengubah arah politik suatu negara. Namun sejarah menunjukkan bahwa gagasan, keyakinan, dan identitas suatu bangsa sering kali hidup jauh lebih lama daripada para pemimpinnya.

Persia pernah mengajarkan dunia tentang kejayaan peradaban. Iran modern hari ini kembali mengingatkan bahwa sejarah, keyakinan, dan politik sering kali berjalan dalam satu garis yang tidak pernah benar-benar terputus.

Editor : Abdul Kadir

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut