SUNGGUMINASA, iNews.id - Di balik sosok I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Bakir Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke 16 yang dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur”, tersimpan kisah kehidupan keluarga istana yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16 yang memerintah sejak 1653. Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat masa pemerintahannya berlangsung dalam periode penting ketika Kerajaan Gowa mempertahankan kebebasan perdagangan di laut lepas dan berhadapan dengan VOC.
Namun, sejarah Sultan Hasanuddin tidak hanya berkaitan dengan peperangan melawan VOC. Kehidupan keluarga kerajaan, termasuk para perempuan yang berada di lingkungan istana, juga menjadi bagian penting dari sejarah Gowa.
I Bate Daeng Tommi, Permaisuri Sultan Hasanuddin
Salah satu tokoh perempuan yang paling kuat jejak sejarahnya adalah I Bate Daeng Tommi Karaenga Bainea, yang juga disebut I Lo’mo Tombong Karaeng Pabineang.
Buku Ayam Jantan dari Timur: Sultan Hasanuddin yang tersimpan dalam repositori resmi Kementerian Pendidikan menyebutkan bahwa setelah Sultan Hasanuddin naik takhta pada November 1653, sekitar dua tahun kemudian ia menikahi I Bate Daeng Tommi. Perempuan tersebut merupakan putri Mangngada’ Cinna Daeng Sitaba Karaeng Patingalloang, tokoh penting yang pernah menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa.
Dalam sumber tersebut, I Bate Daeng Tommi kemudian dikenal dengan sebutan Karaenga Bainea, sebuah gelar yang merujuk pada kedudukan perempuan bangsawan dalam lingkungan kerajaan.
Catatan sejarah tersebut juga menyebut bahwa dari perkawinan Sultan Hasanuddin dengan Karaenga Bainea lahir dua putra, yakni I Mappasomba Amir Hamzah Daeng Nguraga dan Ahmad Daeng Arenne, yang meninggal ketika masih berusia sekitar sembilan tahun.
I Mappasomba kemudian menjadi penerus Sultan Hasanuddin dan dikenal sebagai Raja Gowa ke-17.
Pernikahan dan Lingkar Keluarga Kerajaan
Kisah keluarga Sultan Hasanuddin tidak berhenti pada I Bate Daeng Tommi.
Sumber sejarah lain yang memuat kembali karya M.D. Sagimun, Sultan Hasanudin Menentang VOC mencatat sejumlah perempuan yang disebut sebagai istri Sultan Hasanuddin.
Di antara nama yang muncul dalam catatan tersebut adalah I Marni Daeng Sangnging, I Bate Daeng Tommi Karaenga ri Pabbineang, I Bissu Kare Jannang, I Ralle Daeng Paika’, I Pettana Daeng Nisali, serta sejumlah perempuan lainnya.
Karena terdapat perbedaan penulisan nama dan gelar dalam berbagai sumber, daftar tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan konteks sumber dan transliterasi nama Makassar. Repositori Kementerian Pendidikan sendiri mencatat karya M D Sagimun Sultan Hasanudin Menentang VOC sebagai salah satu koleksi mengenai Sultan Hasanuddin.
I Tanriwalu, Perempuan yang Disebut sebagai Dayang
Salah satu bagian yang menarik adalah keberadaan I Tanriwalu.
Dalam Sultan Hasanudin Menentang VOC, I Tanriwalu disebut sebagai dayang-dayang Sultan Hasanuddin. Dari hubungan tersebut lahir seorang anak laki-laki bernama I Atatojeng Saiful Muluk Kare Tulolo Karaeng Bonto Majannang.
Catatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dalam struktur kehidupan istana Gowa terdapat perbedaan kedudukan antara perempuan bangsawan yang menjadi istri raja dengan perempuan yang berstatus dayang.
Karena itu, I Tanriwalu tidak tepat disebut sebagai permaisuri berdasarkan sumber tersebut. Ia secara spesifik disebut sebagai dayang-dayang.
Hal ini menjadi salah satu bagian sejarah yang menarik karena memperlihatkan bahwa kehidupan istana Kerajaan Gowa memiliki struktur sosial yang kompleks, bukan hanya terdiri atas raja dan keluarga bangsawan.
Mengapa I Bate Daeng Tommi Mendapat Kedudukan Istimewa?
Kedudukan I Bate Daeng Tommi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarganya.
Ia merupakan putri Karaeng Patingalloang, salah satu tokoh besar dalam sejarah Gowa-Tallo. Dalam sumber sejarah, Karaeng Patingalloang dikenal sebagai tokoh berpengaruh dan Mangkubumi Kerajaan Gowa. Bahkan, ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan menguasai sejumlah bahasa asing.
Perkawinan Sultan Hasanuddin dengan putri Karaeng Patingalloang memiliki arti penting dalam lingkungan bangsawan Gowa-Tallo.
Dari sinilah kedudukan I Bate Daeng Tommi semakin kuat di lingkungan kerajaan dan kemudian ia dikenal sebagai Karaenga Bainea.
Kronik Gowa-Tallo Memperkuat Jejak Sejarah
Penelusuran mengenai keluarga kerajaan juga dapat dilakukan melalui kronik Gowa-Tallo, salah satu sumber penting untuk memahami sejarah politik dan dinasti Kerajaan Gowa.
Karya akademik William P. Cummings, A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq, menggunakan kronik Makassar tersebut sebagai sumber utama dalam merekonstruksi sejarah kerajaan. Kronik tersebut mencatat Sultan Hasanuddin sebagai penguasa Gowa ke-16 yang memerintah pada 1653–1669.
Sumber akademik ini penting karena memberikan konteks bahwa sejarah keluarga kerajaan tidak dapat hanya dibaca dari satu buku atau satu versi silsilah.
Perbedaan nama, gelar dan penyebutan anggota keluarga dapat ditemukan ketika membandingkan kronik, buku sejarah dan sumber pemerintah.
Bukan Sekadar Kisah Pribadi Raja
Kisah permaisuri dan dayang Sultan Hasanuddin pada akhirnya bukan sekadar cerita mengenai kehidupan pribadi seorang raja.
Di dalamnya terdapat gambaran mengenai struktur sosial, hubungan bangsawan, garis keturunan dan mekanisme pewarisan kekuasaan di Kerajaan Gowa.
Sultan Hasanuddin sendiri kemudian mengakhiri masa pemerintahannya setelah konflik panjang dengan VOC. Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat bahwa Perjanjian Bungaya ditandatangani pada 18 November 1667, namun konflik kembali berlanjut hingga Benteng Somba Opu jatuh pada 1669. Sultan Hasanuddin kemudian wafat pada 12 Juni 1670 dalam usia 36 tahun.
Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973.
Jejak Perempuan di Balik Sejarah Gowa
Sejarah Sultan Hasanuddin selama ini lebih banyak diceritakan melalui perang melawan VOC dan perjuangannya mempertahankan kedaulatan Gowa.
Padahal, di balik sejarah tersebut terdapat kisah perempuan-perempuan yang menjadi bagian dari kehidupan istana.
I Bate Daeng Tommi Karaenga Bainea tercatat sebagai perempuan bangsawan yang menjadi permaisuri Sultan Hasanuddin dan ibu dari calon penerus takhta.
Sementara I Tanriwalu disebut dalam sumber sejarah sebagai seorang dayang yang memiliki anak dari Sultan Hasanuddin.
Keduanya menunjukkan bahwa sejarah Kerajaan Gowa memiliki lapisan cerita yang jauh lebih luas daripada sekadar kisah peperangan.
Dari permaisuri hingga dayang, dari garis keturunan bangsawan hingga kehidupan di lingkungan istana, semuanya menjadi bagian dari mozaik sejarah Sultan Hasanuddin—Raja Gowa ke-16 yang namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Sulawesi Selatan.
Editor : Revin
Artikel Terkait
