Takjil, Hasrat, dan Ilusi Kenikmatan di Bulan Ramadan
MAKASSAR, iNews.id - Ada sebuah lelucon dalam buku Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek yang menarik untuk menggambarkan bulan Ramadan. Lelucon itu berbicara tentang perbedaan. Bagi Žižek, lelucon tentang perbedaan hanya menjadi lucu ketika perbedaan itu sebenarnya ditolak.
Contohnya begini: apa perbedaan antara mainan mobil-mobilan dengan tempat keluarnya ASI? Tidak ada. Keduanya ditujukan untuk anak kecil, tetapi justru lebih banyak digunakan oleh orang dewasa.
Dalam konteks Ramadan, kita juga bisa bertanya: apa perbedaan antara es teh manis, gorengan, es pisang ijo, dan berbagai es lainnya saat Ramadan dan saat tidak Ramadan? Jawabannya: tidak ada. Semuanya sama saja—sekadar ilusi penyejuk dahaga yang pada akhirnya justru membuat kita kembung dan tidak mampu bergerak.
Persoalannya menjadi menarik ketika kita menyadari bahwa takjil bukan sekadar makanan berbuka. Takjil adalah komoditas yang di dalamnya mengandung ideologi. Ketika kita mengonsumsi takjil, kita tidak hanya mengonsumsi makanan atau minuman, tetapi juga ideologi yang menyertainya.
Mengonsumsi kurma, misalnya, memiliki dimensi teologis yang ikut kita serap. Sementara ketika kita mengonsumsi es teh manis, gorengan, es pisang ijo, dan aneka es lainnya saat berbuka puasa, kita turut mengonsumsi ideologi konsumerisme dalam bentuk paling sempurna—in optima forma.
Es teh sendiri termasuk minuman yang bersifat diuretik. Ketika diminum dalam kondisi dehidrasi, bukannya menghilangkan dahaga, ia justru dapat membuat kita semakin haus. Akibatnya, kita terdorong untuk menambah lebih banyak es teh.
Dampaknya kemudian muncul dalam bentuk kembung, kekenyangan, hingga lonjakan gula darah yang membuat tubuh lemas. Hal serupa juga berlaku pada gorengan, es pisang ijo, dan berbagai minuman manis lainnya. Semua menghadirkan ekses—in optima forma.
Ekses tersebut sesungguhnya menggambarkan persoalan mendasar tentang hasrat. Hasrat hadir untuk menciptakan ilusi seolah-olah kita mampu mengatasi the real. Dalam istilah sederhana, the real adalah kondisi ketika kita merasa kurang atau berjarak dengan sesuatu, tetapi tidak memiliki alat untuk sepenuhnya mengisi kekurangan itu.
Dalam konteks takjil dan berbuka puasa, the real muncul ketika kita mencoba memenuhi dahaga dan lapar hanya untuk menyadari bahwa perut kita terlalu sempit untuk menampung semuanya. Yang terjadi kemudian adalah siklus konsumsi yang tidak pernah benar-benar memuaskan.
Kita tidak sedang memuaskan dahaga, melainkan merayakan ketidakmungkinan untuk merasa utuh melalui tumpukan gorengan dan manisnya es yang semu. Inilah hasrat dalam bentuk paling sempurna—in optima forma.
Ironisnya, penyebab hasrat ini sering kali gagal kita identifikasi. Bukan es teh manis atau gorengan yang sebenarnya kita hasrati. Yang kita hasrati adalah hilangnya rasa lapar dan dahaga.
Namun ketika kita mencoba memuaskan hasrat itu secara berlebihan, yang terjadi justru sebaliknya: kita makin haus dan makin lapar. Hingga akhirnya muncul momen traumatik dalam perut kita akibat terlalu banyak mengonsumsi kenikmatan. Inilah yang dalam psikoanalisis disebut sebagai jouissance—kenikmatan yang berlebihan hingga menyakitkan.
Di sinilah Ramadan seharusnya menjadi ruang latihan. Ramadan melatih manusia untuk menghasrati sesuatu yang tampaknya mustahil. Misalnya, manusia yang penuh dosa menghasrati kemenangan yang fitrah.
Ketika kita menyadari bahwa kesempurnaan itu mustahil sepenuhnya diraih, kita justru terdorong untuk mengejarnya secara lebih radikal. Ibadah bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan upaya untuk melampaui batas-batas kemanusiaan yang rapuh.
Itulah sebabnya di bulan Ramadan orang berlomba-lomba berbuat baik. Mereka sedang mengejar bayang-bayang kesempurnaan yang semakin memikat justru karena tidak pernah benar-benar bisa digenggam.
Ramadan menyediakan panggung bagi kekurangan manusia—lack—untuk menari di hadapan janji-janji teologis yang absolut. Kita bergerak bukan karena yakin akan sampai, tetapi karena terobsesi pada jarak yang memisahkan kita dari yang suci.
Seluruh gambaran ini sebenarnya dapat diperluas ke skala yang lebih besar. Mekanisme hasrat yang kita temukan dalam segelas es teh manis adalah mikrokosmos dari tragedi yang lebih kolosal di panggung dunia.
Sebagaimana kita mengejar kepuasan perut yang mustahil, arogansi negara adidaya dengan mesin perangnya beroperasi di atas ilusi yang sama: hasrat akan dominasi total yang justru menciptakan ekses berupa kehancuran permanen.
Di dalam negeri, peristiwa politik sering kali menyerupai barisan takjil yang menjanjikan kesegaran, tetapi hanya menyisakan kembung kekuasaan dan lonjakan gula darah oligarki yang melumpuhkan keadilan.
Baik dalam seteguk es pisang ijo maupun dalam dentuman peluru di medan perang, kita sebenarnya sedang menyaksikan pengejaran tanpa akhir terhadap objek yang tidak pernah mampu memuaskan.
Itulah ketamakan dalam bentuk paling sempurna—in optima formal. Sesuatu yang, seharusnya, dapat kita obati dengan puasa—in optima forma.
Editor : Abdul Kadir