JENEPONTO, iNews.id - Manager PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kabupaten Jeneponto, H. Asmar Arief, secara resmi menanggapi aksi damai yang dilakukan puluhan mahasiswa HMI Komisariat STIE & STKIP YAPTI Jeneponto di depan kantor PLN ULP Jeneponto.
Pihak PLN Jeneponto menyambut baik dan menghargai kepedulian yang disampaikan para mahasiswa.
"Kami sangat menghargai perhatian dan kepedulian masyarakat, termasuk rekan-rekan mahasiswa HMI yang menyampaikan aspirasinya hari ini. Ini merupakan bentuk kontrol sosial yang positif bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan," ujar Asmar Arief.
Terkait tuntutan agar penjelasan disampaikan secara terbuka dan transparan. Manager PLN ULP Jeneponto, Asmar Arief menjelaskan bahwa pemadaman bergilir terjadi karena ketidakseimbangan antara kemampuan pembangkitan dengan kebutuhan beban.
"Puncak pemakaian beban kita di Kabupaten Jeneponto secara keseluruhan itu mencapai 72 megawatt (MW). Sehingga dengan adanya defisit daya, seluruh sistem meminta kita harus mengurangi bebannya," jelasnya Asmar Arief.
Ia memaparkan faktor utama penyebab terjadinya defisit daya yakni faktor cuaca dan kemarau panjang yang menyebabkan penurunan debit air, sehingga melemahkan kemampuan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Kemudian, kendala teknis dan gangguan operasional pada unit-unit pembangkit besar, seperti di PLTU Punagaya, yang membuat kapasitas produksi listrik berkurang dari kondisi normal.
Serta daya mampu pasok yang belum pulih sepenuhnya sehingga pengaturan beban tetap diperlukan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan secara keseluruhan.
"Pengaturan beban ini dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan secara keseluruhan, agar tidak terjadi pemadaman total yang justru lebih merugikan masyarakat," tegasnya.
ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat.
"Kami memahami kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat. Olehnya itu, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan, tetapi inilah jalan terbaik supaya pembangkit kita bisa bertahan dalam jangka panjang sambil kita menunggu sistem kembali normal," ucapnya.
Pihaknya juga telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekurangan daya.
"Kita juga sudah melakukan penambahan mesin PLTD untuk menutupi kekurangan pembangkit yang lain," katanya.
Pengaturan beban dilakukan secara bertahap dan terukur sesuai kondisi sistem secara langsung di lapangan. Pola pemadaman juga terus disesuaikan agar tidak memberatkan masyarakat.
"Tidak bisa satu wilayah dipadamkan sampai 4 kali berturut-turut, itu tidak bisa. Selama beban kita tercukupi, kita atur sebaik mungkin," tegasnya.
Salah satu fokus perbaikan saat ini adalah optimalisasi PLTU Punagaya yang masih memerlukan penanganan agar dapat beroperasi kembali secara maksimal.
"PLTU Punagaya itu sudah disurvei langsung oleh Direktur Utama PLN agar pembangkit yang mengalami kerusakan di sana bisa segera beroperasi kembali untuk menyuplai daya dan menutupi kekurangan yang ada," tuturnya.
Merespons tuntutan agar Kepala ULP mengundurkan diri jika dinilai tidak mampu, Asmar menyatakan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah kinerja individu, melainkan menyangkut ketersediaan daya dari pembangkit dalam sistem yang lebih luas.
"Ini bukan masalah kinerja personal semata, melainkan ketersediaan daya dari pembangkit-pembangkit yang belum beroperasi secara maksimal. Namun demikian, saya dan seluruh tim akan terus berupaya semaksimal mungkin mengoptimalkan apa yang bisa kami lakukan di lapangan," bebernya.
Ia menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam pemadaman yang terjadi.
"Kami tidak ada kesengajaan untuk melakukan pemadaman, karena listrik itu untuk masyarakat, tidak ada pengecualian. Setiap tambahan megawatt dari pembangkit yang pulih, akan segera kami salurkan ke masyarakat," pungkasnya.
Pihak PLN ULP Jeneponto juga menyatakan keterbukaannya untuk terus berkomunikasi dengan masyarakat dan semua pihak terkait demi transparansi informasi dan perbaikan pelayanan ke depan.
Editor : Revin
Artikel Terkait
